ACEH TAMIANG, IBINEWS.CO.ID– Di tengah derasnya arus teknologi dan informasi, masyarakat diingatkan untuk kembali mengedepankan etika dalam berkomunikasi di Media Sosial (Medsos). Pesan penting ini disampaikan oleh Ustadz Saiful, S.Ag. saat memberikan pernyataan kepada Ketua PWI Aceh Tamiang, Erwan, untuk diteruskan kepada masyarakat luas melalui media online.
Ustadz Saiful menyoroti maraknya fenomena hate comment atau komentar kebencian yang kian tak terkendali. Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya berbanding lurus dengan kematangan akhlak. Sayangnya, realita di lapangan menunjukkan media sosial sering kali menjadi arena caci maki, fitnah, dan penghinaan yang merendahkan martabat manusia.
Pertanggungjawaban setiap ketikan
Dalam pandangan Islam, Ustadz Saiful menegaskan bahwa menjaga tulisan sama pentingnya dengan menjaga lisan. Setiap huruf yang diketik dan diunggah ke ruang publik akan dicatat sebagai amal yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an dan dipertegas melalui hadis Rasulullah SAW:
”Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)
“Islam mengajarkan bahwa tidak ada satu ucapan atau ketikan pun yang luput dari pengawasan. Kita harus berhati-hati sebelum menekan tombol kirim, karena luka yang disebabkan oleh tulisan bisa lebih dalam daripada luka fisik,” ujar Ustadz Saiful.
Bahaya Dosa Jariyah dan Dampak Psikologis
Lebih lanjut, beliau memperingatkan tentang bahaya dosa jariyah di dunia maya. Berbeda dengan ucapan lisan yang mungkin hanya didengar segelintir orang, komentar buruk di media sosial dapat dibagikan berulang kali, bertahan selamanya, dan memicu kebencian berantai.
Ustadz Saiful juga mengutip hadis populer mengenai standar keimanan seseorang dalam berbicara:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)
“Jika kita tidak mampu memberi komentar yang bermanfaat atau memberikan solusi, maka diam adalah pilihan yang jauh lebih mulia dan menyelamatkan kita dari dosa,” tambahnya.
Poin Penting Pesan Ustadz Saiful:
• Etika Digital : Media sosial harus diisi dengan ilmu dan persaudaraan, bukan caci maki.
• Bahaya Fitnah : Menuduh tanpa bukti lebih kejam dari pembunuhan karena merusak nama baik secara permanen.
• Dampak Mental : Hate comment memicu tekanan psikologis, depresi, hingga hilangnya kepercayaan diri korban.
• Solusi Islam : Tabayyun (cek ricek) sebelum berkomentar dan mengutamakan kesantunan.
Seruan untuk Masyarakat
Menutup pernyataannya, Ustadz Saiful mengajak seluruh pengguna media sosial untuk menjadikan platform digital sebagai ladang pahala, bukan ladang dosa. Beliau mengingatkan bahwa seorang Muslim yang baik adalah mereka yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya (ketikannya).
“Komentar jahat adalah cerminan hati. Mari kita hiasi ruang digital kita dengan kata-kata yang menyejukkan, karena setiap jari kita akan menjadi saksi di akhirat kelak,” pungkasnya.









Komentar