Grobogan, 19 September 2026 — Semangat membangun desa tidak selalu harus menunggu program pemerintah. Hal tersebut setidaknya tergambar dari sosok Tri Santo, seorang tokoh muda asal Desa Padas, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, yang tergerak untuk ikut membangun kampung halamannya.
Dengan kepedulian terhadap kondisi desa, Tri Santo turut mendorong berbagai pembangunan infrastruktur, mulai dari jalan desa, akses menuju batas desa, jalan utama, tempat ibadah, hingga prasarana gedung olahraga yang ke depan direncanakan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan masyarakat, termasuk acara pernikahan maupun pertemuan warga.
Sejumlah ruas jalan di Desa Padas kini telah dibangun dengan konstruksi beton. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari serta memperlancar akses menuju berbagai wilayah.
Salah seorang warga, Sarmidi, saat ditemui media mengatakan bahwa dirinya melihat perubahan yang cukup signifikan di Desa Padas, khususnya dari sisi infrastruktur.
«“Banyak perubahan di desa saya. Dari segi infrastruktur sekarang lebih baik. Hampir semua jalan-jalan utama sudah dibetonisasi,” ungkap Sarmidi.»
Menurut informasi yang disampaikan kepada media, pembangunan berbagai sarana tersebut melibatkan nilai yang mencapai miliaran rupiah. Namun, rincian sumber pembiayaan dan nilai masing-masing pembangunan perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak terkait.
TERGERAK SETIAP PULANG KAMPUNG
Bagi Tri Santo, pembangunan desa berawal dari kegelisahan pribadi. Setiap kali pulang dari perantauan, ia melihat kondisi jalan desa yang menurutnya tidak banyak berubah.
Kondisi tersebut kemudian mendorong dirinya untuk ikut berbuat sesuatu bagi kampung halaman.
Ia memiliki semboyan:
“Kerjo Nang Khuto, Mbangun Deso.”
Semboyan tersebut menjadi gambaran keinginannya untuk tetap memberikan manfaat bagi desa, meskipun dirinya sempat menjalani kehidupan di perantauan.
Tri Santo berharap ketika dirinya pulang ke kampung halaman, ia dapat melihat Desa Padas semakin berkembang, dengan jalan yang lebih baik, penerangan jalan yang memadai, serta fasilitas umum yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
«“Aku membangun semata-mata, dari uang pribadiku, biar desaku maju dan masyarakat tidak kesulitan dalam bepergian,” tutur Tri Santo.»
BUKAN SEKADAR MEMBANGUN FISIK
Apa yang dilakukan Tri Santo tidak hanya berbicara mengenai pembangunan fisik. Kepedulian terhadap tempat ibadah dan fasilitas masyarakat juga menjadi bagian dari perhatian yang diberikan.
Rencana pembangunan dan pengembangan gedung olahraga pun diharapkan tidak hanya menjadi tempat berolahraga, tetapi dapat memiliki fungsi sosial yang lebih luas sebagai ruang berkumpul, tempat pertemuan, maupun kegiatan masyarakat.
Semangat tersebut menjadi contoh bahwa pembangunan desa membutuhkan kepedulian berbagai pihak. Ketika masyarakat, tokoh desa, pemuda dan pemerintah dapat berjalan bersama, pembangunan di tingkat desa diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih luas.
Desa Padas pun perlahan menunjukkan perubahan. Jalan yang semakin baik, fasilitas masyarakat yang terus dibenahi, serta perhatian terhadap sarana umum menjadi bagian dari harapan agar masyarakat tidak lagi kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Redaksi Kaswi
Jurnalistik Investigasi Bhayangkara Indonesia (IBI)









Komentar