IBInews.co.id,
REMBANG JAWA TENGAH – Alun-alun Rembang tidak seperti biasanya. Sejak pukul 06.00 WIB Senin (27/7/2026), lapangan kota itu sudah dipenuhi warna-warni seragam pelajar, batik khas Rembang, dan wajah-wajah sumringah warga dari 14 kecamatan.
Hari itu, Kabupaten Rembang genap berusia 285 tahun. Usia yang panjang, tapi semangatnya tetap muda.
Mengusung slogan “Ketahanan Pangan Tangguh, SDM Unggul, Infrastruktur Berkelanjutan”, peringatan tahun ini terasa berbeda. Bukan sekadar seremonial. Di tengah panggung utama, selain jajaran pejabat daerah, duduk berjejer petani garam dari Sarang, nelayan dari Kaliori, guru honorer, hingga seniman-seniwati yang biasanya manggung di panggung rakyat.

Bupati Rembang dalam sambutannya tidak banyak bicara soal proyek besar. Ia justru menoleh ke barisan pelajar di depan.
“285 tahun Rembang berdiri karena keringat ibu-ibu yang menjemur garam, bapak-bapak yang melaut, dan guru-guru yang tetap mengajar walau jauh. Kalau pangan kita kuat, anak-anak kita pintar, dan jalan kita sampai ke desa, maka Rembang akan terus hidup,” ujarnya disambut tepuk tangan panjang.
Momen paling menyentuh terjadi saat 285 pelajar SD-SMA menadahkan tangan untuk berdoa bersama. Setiap tangan mewakili 285 tahun usia Rembang. Sambil melantunkan “Gending tradisional”, beberapa siswa meneteskan air mata. Di bangku penonton, seorang nenek penjual air mineral mengusap dadanya.
“Saya lahir di Rembang, besar di Rembang, cucu saya juga sekolah di sini. Denger slogan ketahanan pangan itu, rasanya… ya, kita ini harus saling jaga,” katanya pelan.
Usai upacara, alun-alun berubah jadi pasar rakyat. Ada bazar produk pangan lokal: bandeng presto, garam gosok, kerupuk ikan, sampai sayur hidroponik dari kelompok tani muda. Ada juga panggung seni. Dalang cilik, penari gambyong, dan grup musik pelajar silih berganti. Pejabat, guru, dan pedagang asongan duduk lesehan, sama-sama tepuk tangan.
Ketua panitia menyebut, konsep tahun ini sengaja dibuat “turun ke tanah”. Tidak ada panggung megah yang memisahkan.
“Kami ingin HUT ini milik semua orang. Pejabat, pelajar, seniman, semua setara di alun-alun,” katanya.
Hingga sore, warga masih bertahan. Anak-anak berlarian mengejar balon bertuliskan “Rembang 285”. Di ujung lapangan, spanduk besar terbentang: Ketahanan Pangan Tangguh, SDM Unggul, Infrastruktur Andal untuk Rembang Sejahtera.
Di usia 285, Rembang seperti mengingatkan dirinya sendiri: kota ini besar bukan karena gedungnya, tapi karena orang-orangnya yang tetap mau bekerja, belajar, dan menjaga satu sama lain.
Selamat ulang tahun, Rembang.
Terus tangguh, terus menginspirasi.
Yudhi Redaksi










Komentar