Semarang – Organisasi kemasyarakatan Pendekar Darah Garuda (PDG) menggelar kegiatan seni dan budaya di Jalan Jolotundo Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, pada Sabtu–Minggu, 14–15 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan “Menyapa Bangsa dengan Taman Hati” yang diinisiasi sebagai upaya membangun komunikasi langsung antara pemimpin dan masyarakat secara humanis dan inklusif.
Pembina PDG, Gus Nuril, menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari kepedulian terhadap jarak yang kian melebar antara rakyat dan para pemimpinnya. Menurutnya, masyarakat tidak hanya hadir saat momentum politik, tetapi harus disapa dan dihargai secara berkelanjutan.
“Kalau sekurang-kurangnya belum bisa membikin rakyat sejahtera dan bahagia, minimal jangan sampai menyusahkan rakyat. Disapa dengan hati nurani, di-wongke saja itu sudah membuat rakyat senang,” ujarnya, minggu (15/2).
Ia menambahkan bahwa gerakan ini tidak membedakan latar belakang partai, suku, agama, maupun golongan. Spirit utamanya adalah menyapa bangsa dari lubuk hati yang paling dalam, sebagai wujud kepemimpinan yang berlandaskan kasih dan nilai kemanusiaan.
Penguatan Budaya dan Kebhinekaan
PDG merupakan bagian dari jejaring organisasi yang berinduk pada Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid dan Anunuyah Soko Tunggal, serta bersinergi dengan sejumlah elemen seperti Kalacakra dan Patriot Nusantara. Namun, Gus Nuril menekankan bahwa yang utama bukanlah atribut organisasi, melainkan niat baik untuk menjaga persatuan dan kebudayaan bangsa.
Ketua Umum PDG, Gus Nova, menyampaikan harapannya agar pendekar tidak hanya dimaknai sebagai sosok yang berani bertarung, tetapi juga sebagai kesatria yang mampu momong, ngayomi, dan membimbing masyarakat.

“Pendekar harus menjadi pelindung dan pengayom, khususnya di Kota Semarang. Kami ingin merangkul semua lapisan masyarakat serta memperkenalkan kembali budaya luhur warisan Nusantara,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kekayaan budaya Indonesia agar tidak tergerus pengaruh asing. Kegiatan budaya seperti Kebo Biru, Jathilan, dan seni tradisional lainnya dinilai sebagai bagian dari identitas bangsa yang harus terus dilestarikan.
PDG, lanjutnya, mendapat dukungan dan fasilitasi dari Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, untuk menyelenggarakan agenda kebudayaan secara berkala setiap tiga bulan dengan lokasi yang berpindah-pindah.
Selain pelestarian budaya, PDG juga mendorong penguatan kembali nilai-nilai ideologi bangsa, termasuk pembacaan teks Pancasila dalam berbagai kegiatan publik sebagai pengingat jati diri nasional yang berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika.
Kolaborasi Seni Budaya
Sementara itu, Romo Yai Abi selaku pengasuh Seni Debus Majelis Ngalah Singo Gendeng menyampaikan bahwa pihaknya siap berkolaborasi dalam rangkaian kegiatan seni budaya bersama PDG.
Menurutnya, dukungan Pemerintah Kota Semarang menjadi energi positif bagi para pelaku seni tradisional untuk terus berkarya dan tampil dalam event-event kebudayaan di Kota Semarang.
“Ke depan, seni debus Majelis Ngalas Singo Kendeng akan berkolaborasi bersama seni-seni lainnya dalam event kebudayaan yang diadakan Pendekar Darah Garuda. Ini menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan budaya bangsa,” ungkap Romo yang juga sebagai pembina Pendekar Darah Garuda.
Kegiatan di Jalan Jolotundo Raya tersebut mendapat antusiasme masyarakat sekitar dan menjadi simbol komitmen PDG dalam membangun kedekatan emosional dengan warga melalui pendekatan budaya.
Dengan semangat kebersamaan dan kemanusiaan, PDG berharap gerakan “Menyapa Bangsa dengan Taman Hati” dapat menjadi ruang temu antara pemimpin dan rakyat, sekaligus wahana pelestarian budaya Nusantara di Kota Semarang.





Komentar