SEMARANG — Kepala UPTD Wisata Taman Lele Kota Semarang, Sri Sumiyati, memastikan sejumlah perbaikan fasilitas di kawasan wisata tersebut akan dilaksanakan setelah Lebaran. Hal ini disampaikan sebagai respons atas adanya dua titik bangunan yang direncanakan mendapat penanganan, namun hingga kini belum dilaksanakan.
Sri Sumiyati menjelaskan bahwa proyek yang menjadi prioritas pasca-Lebaran adalah perbaikan kolam renang, khususnya peninggian struktur kolam.
“Pekerjaannya nanti fokus di kolam renang. Itu ditinggikan karena rencananya mau dipasang wahana air seperti ember tumpah. Selain itu kolam renang sudah lama, keramiknya banyak yang coel-coel dan harus diperbaiki,” ujarnya, jumat (3/4).
Menurutnya, rencana renovasi ini telah diusulkan pihak UPTD kepada dinas terkait, namun detail besaran anggaran tidak diketahui.
“Kalau angkanya saya tidak tahu. Kita hanya mengusulkan kebutuhan, seperti kolam renang dan fasilitas lainnya. Nanti yang menyetujui dari dinas,” jelasnya.
Sri Sumiyati menyebut pihaknya telah mengajukan sekitar 14 usulan perbaikan untuk anggaran tahun 2026. Namun ia mengakui tidak hafal seluruh daftar secara rinci. Beberapa di antaranya meliputi:
– Perbaikan kolam renang
– Pembenahan tempat ganti
– Penanganan kerusakan fiber
– Perbaikan gazebo bagian atas
– Penggantian kursi lipat
-Perbaikan kolam ikan (sudah dikerjakan sebelumnya)
“Gazebo yang di atas itu ada sepuluh, ukurannya sama semua. Kita ingin list-nya dipasang supaya terlihat rapi, tidak mlompong,” tambahnya.
Banyak Perbaikan Dikerjakan Mandiri Oleh UPTD
Menariknya, sejumlah pekerjaan fisik di Taman Lele beberapa waktu terakhir ternyata dikerjakan secara mandiri oleh tim UPTD, bukan proyek yang dibiayai anggaran khusus. Hal ini terjadi terutama setelah insiden pohon tumbang yang merusak bagian pagar dan struktur tertentu.

“Pengerjaan banyak dilakukan teman-teman UPTD sendiri dengan alat yang kita punya. Cat dari dinas, tapi pengerjaan bukan proyek baru. Itu bisa dilihat langsung,” kata Sri Sumiyati.
Ia menegaskan bahwa pekerjaan tersebut bukan “kerja bakti”, melainkan bagian dari tugas Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Kita ini dibayar pemerintah. Karena Taman Lele sempat ditutup sementara, tenaga difokuskan untuk pembersihan. Jadi bukan kerja bakti, tapi optimalisasi tenaga,” ujarnya.
Selama proses penanganan tumbangnya pohon, UPTD juga mendapat bantuan dari beberapa tim, termasuk TBRS, Tinjomoyo, dan Taman Alo Lintas. Proses pembersihan sendiri memakan waktu hingga setengah bulan.
Sri Sumiyati memastikan area yang telah diperbaiki sudah dapat digunakan kembali.
“Sebelum Lebaran sudah bisa dimanfaatkan. Sudah rapi meskipun belum seratus persen,” katanya. (Hrd)











Komentar