investigasibhayangkara.com, –
Sejumlah hasil riset dari para ilmuwan politik dari sejumlah negara menilai bahwa wajah demokrasi Indonesia secara kualitatif semakin memburuk. Diantara ilmuwan yang melakukan riset tentang Indonesia sepanjang lima tahun terakhir ini adalah Edward Aspinall dan Marcus Mietzner dari Australia National University (2019).
Kedua ilmuwan ini menyebut bahwa saat ini demokrasi Indonesia sedang berada di titik terendahnya. Kepemimpinan Presiden Jokowi disebut-sebut sebagai salah satu penyebab dari kemunduran terbesar demokrasi di Indonesia saat ini.
Kami mencermati penilaian Aspinall dan Mietzner memiliki kebenaran akademisnya. Sejumlah hasil riset dalam sejumlah jurnal tentang memburuknya demokrasi Indonesia bisa dibaca karya kedua ilmuwan tersebut diantaranya Nondemocratic pluralism in Indonesia (2019), Indonesia’s Democracy Paradox: Competitive election amidst rising liberalism (2019).
Atau karya Edward Aspinall lainya Bersama D.Fossati dkk dengan judul Elites, Masses, and democratic decline in Indonesia (2020), atau riset Edward Aspinall bersama E. Warburton dengan judul Indonesia: The Dangers of Democratic Regression (2017). Jurnal ilmiah karya ilmuwan lain tentang mundurnya demokrasi Indonesia juga bisa dicermati dari risetnya RW Liddle Bersama S.Mujani dengan judul Indonesia : Jokowi Sidelines Democracy (2021). Termasuk hasil risetnya Jacgui Backer dengan judul Reformasi Reversal: Structural Drivers of Democratic Decline In Jokowi ‘s Middle-Income Indonesia (2023).
Fakta mundurnya demokrasi Indonesia pada periode ini juga didukung data tentang indeks demokrasi Indonesia yang menurut The Economist level skornya stagnan berada di kategori Jlawed democracy. Tentu wajah buruk demokrasi Indonesia ini terjadi diantaranya karena menurunya kebebasan sipil, faktor perilaku elit dalam proses prosedural demokrasi maupun pada ranah budaya politik yang ditunjukan elit politik maupun warganya. Proses-proses sirkulasi elit partai yang tidak normal juga menjadi petanda penting buruknya pelembagaan politik yang sekalogus memburuknya demokrasi.
Kasus mundurnya Airlangga Hartarto (AH) dari posisi Ketua Umum Partai Golkar secara mendadak pada 10 Agustus 2024 dan minim argumen kokoh adalah fakta politik yang menunjukan abnormalitas sirkulasi elit partai itu.
Pada titik inilah kami forum 98 melawan yang terdiri dari para aktivis 98 dari berbagai profesi baik sebagai pekerja profesional, akademisi, aktivis NGO, maupun pekerja di berbagai sektor lainya menyatakan sikap atas fenomena tersebut sebagai berikut :
- Secara kualitatif demokrasi Indonesia terus mengalami kemunduran dan sudah menenuju masa gelap demokrasi Abnormalitas sirkulasi elit partai adalah tanda buruk demokrasi.
- Dalam kasus Golkar kami mencermati dengan perspektif analisis aktor dan didukung analisis peristiwa politik yang terangkai hingga mundurnya Airlangga Hartarto kami menyimpulkan bahwa ada akor utama yang semacam melakukan kudeta demokrasi atau melakukan pengambilalihan kekuasaan secara semena-mena karena mengabaikan prosedur normal pergantian kepemimpinan di tubuh partai.
Aktor utama dalam proses “kudeta demokrasi” ini diduga kuat adalah Joko Widodo.
- Mendorong kepada seluruh kader partai politik apapun partai politiknya untuk secara sungguh-sungguh menegakan demokrasi dengan menolak seluruh proses politik yang
melanggar proses demokrasi ditubuh partai maupun dalam ketatanegaraan Indonesia sebagai negara republik.
Reporter: Liston gurning







Komentar