Peringatan Hari Bumi Internasional: LPLHI-KLHI Sabang Serukan Aksi Nyata Lindungi Ekosistem Pulau Weh

SABANG, IBINEWS.co.id – Menyongsong peringatan Hari Bumi Internasional yang jatuh pada tanggal 22 April mendatang, Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Penyelamat Lingkungan Hidup Indonesia – Kawasan Laut Hutan dan Industri (DPD LPLHI-KLHI) Kota Sabang secara resmi mengeluarkan seruan aksi lingkungan. Ketua DPD LPLHI-KLHI Sabang, Syukri, atau yang lebih dikenal dengan sapaan T. Bayu, mengajak seluruh elemen warga untuk memperkuat komitmen menjaga alam.

​T. Bayu menyampaikan bahwa momentum Hari Bumi tahun ini harus menjadi titik balik bagi masyarakat Kota Sabang untuk meningkatkan kesadaran kolektif. Menurutnya, apresiasi terhadap alam tidak boleh hanya berhenti pada kekaguman visual, namun harus dimanifestasikan dalam bentuk aksi nyata guna memitigasi krisis iklim yang kian mengancam.

​Dalam orasinya, ia mengingatkan bahwa terdapat kurang lebih 40.000 jiwa yang menggantungkan hidupnya di Pulau Weh. Sebagai pulau yang berdiri kokoh di tengah laut dan berbatasan langsung dengan perairan internasional Selat Malaka, kerentanan ekologis menjadi tantangan besar yang harus dihadapi oleh penduduk setempat.

​T. Bayu juga menyoroti ambisi pemerintah daerah yang ingin menjadikan Sabang sebagai destinasi wisata nasional unggulan. Ia menegaskan bahwa visi tersebut hanya bisa tercapai apabila keaslian dan kebersihan alam tetap terjaga, karena daya tarik utama Sabang terletak pada kemurnian ekosistemnya.

​Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah pengendalian sampah plastik. Sampah plastik dinilai sebagai ancaman serius yang dapat merusak struktur tanah. T. Bayu mengimbau warga untuk meminimalisir penggunaan plastik sekali pakai agar tanah di Pulau Weh tetap subur untuk mendukung kehidupan flora di atasnya.

​Tidak hanya di daratan, limbah plastik juga menjadi musuh utama bagi ekosistem bawah laut. LPLHI-KLHI Sabang berkomitmen untuk memastikan biota laut tetap berkembang tanpa gangguan polusi, mengingat sektor perikanan dan wisata bahari adalah urat nadi perekonomian masyarakat Sabang.

​Lebih lanjut, T. Bayu memberikan catatan kritis mengenai pemanfaatan ruang laut yang kian masif. Ia memperingatkan seluruh pemangku kepentingan agar tidak menutup akses publik pada sempadan-sempadan pantai. Ia menegaskan bahwa wilayah pesisir harus tetap bisa dinikmati oleh masyarakat luas tanpa terhalang privatisasi yang berlebihan.

​Terkait kawasan hijau, LPLHI-KLHI juga menaruh perhatian besar pada kelestarian hutan lindung. Penjagaan kawasan ini bukan sekadar tentang estetika, melainkan demi menjamin ketersediaan sumber mata air. Tanpa hutan yang sehat, krisis air bersih akan menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup penduduk di masa depan.

​Melalui rilis ini, T. Bayu mengajak masyarakat untuk memulai langkah kecil namun berdampak besar mulai hari ini. Kampanye pengurangan sampah plastik, budaya hemat energi di setiap rumah tangga, serta gerakan penanaman pohon kembali harus menjadi gaya hidup baru bagi warga Pulau Weh yang tercinta.

​Langkah-langkah preventif ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan alam di tengah arus modernisasi. Pendidikan lingkungan sejak dini di tingkat keluarga juga menjadi salah satu fokus agar pesan pelestarian ini tersampaikan dengan baik kepada generasi muda yang akan mewarisi pulau tersebut.

​T. Bayu meyakini bahwa keterlibatan masyarakat secara aktif adalah kunci utama keberhasilan perlindungan lingkungan. Baginya, kebijakan pemerintah setinggi apa pun tidak akan membuahkan hasil yang maksimal tanpa didukung oleh kesadaran dan kepatuhan dari warga yang bersentuhan langsung dengan alam.

​Sebagai penutup, ia melontarkan sebuah pertanyaan reflektif bagi seluruh penghuni Pulau Weh mengenai tanggung jawab moral terhadap lingkungan. “Jika bukan kita yang menjaga alam ini agar terus asri, lalu kepada siapa lagi kita akan menitipkan masa depan bumi ini?” pungkasnya dengan tegas.

Komentar