Pembangunan Ruas Jalan Gunungsari – Selogiri “Pepesan Kosong” Belaka? Ini Ceritanya!

 

IBI news.co.idKEBUMEN–, Jabar Express – Pembangunan jalan kabupaten sekira 2,3 kilometer yang sempat direncanakan pemerintah, namun hingga saat ini tak kunjung terealisasi, tepatnya di Desa Selogiri, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Pasalnya, pembangunan jalan tersebut pernah diajukan pemerintah desa setempat, Sukiman Kepala Desa (Kades) Selogiri mengatakan, bahwa pemerintahan desa sudah beberapa kali mengajukan proposal tersebut ke pemerintahan daerah Kabupaten Kebumen.

“Kami selaku pemerintah desa Selogiri sudah berkali-kali mengajukan bantuan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Propinsi. Namun hingga sekarang belum ada yang cair,” ungkap Sukiman saat dikonfirmasi tim media Jabar Express diruang balai desa, Selasa (272/2024).

“Pengajuan itu dari tahun 2019, 2020, dan 2021. Tapi harus bagaimana lagi, kami selaku Pemerintah Desa Selogiri hanya bisa berusaha namun pemerintahan diataslah yang menentukan terkait cair atau tidaknya? Sebab sekira bulan Desember 2023 yang lalu sempat saya tanyakan kepada dinas terkait, namun hasilnya masih nihil,” terang Sukiman.

Lanjut, dia menjelaskan, pembangunan jalan itu sangat diharapkan dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar sebab jalan tersebut tembus dengan Kabupaten Banjarnegara.

“Jalan itu sebenarnya termasuk jalan utama untuk dilalui anak sekolah dan lingkungan sekitar, intinya amat sangat bermanfaat bagi masyarakat Selogiri pada saat mau ke pasar Soma, yang jelas dapat memajukan roda perekonomian warga kami. Bahkan jalan itu dapat tembus ke Kabupaten tetangga,” lanjutnya.

Sukiman berharap, Pemerintah mau menderkan keluhan dan jeritan warganya. Yang mana disitu sangat membutuhkan infrastruktur pembangunan jalan kabupaten.

“Harapan saya semoga Pemerintah Daerah, Propinsi, dan Pusat mendengarkan jeritan masyarakat kami terkait pembangunan jalan kabupaten yang berada di Desa Selogiri, sebab jalan itu sangat membantu roda perekonomian kami,” harapnya.

Sementara itu YD warga sekitar mengatakan, jalan yang biasa dilewati sangat berbahaya, licin serta sering memakan korban yang melaluinya, terutama pada saat musim penghujan tiba.

“Jalan ini sudah banyak memakan korban, contohnya saat itu ibu-ibu yang berangkat jualan ke pasar Soma dengan mengendarai sepeda motor sempat terjatuh disini, lalu kemarin seorang anak yang berangkat ke sekolah terpeleset juga, bahkan hampir saja dia masuk jurang. Kemudian anak tersebut tidak jadi berangkat ke sekolah karena baju yang dipakai kotor terkena tanah lumpur,” kata YD.

“Pada musim panas mungkin masih mending untuk dilewati tetapi untuk musim hujan jalan itu sungguh sangat memperihatinkan sekali,” ucapnya.

Senada KD menjelaskan, saat musim hujan ada warga yang sakit, sangat tidak mungkin dibawa ke RSUD Kebumen dan harus dilarikan ke RSUD Banjarnegara karena terkendala jalannya yang susah dilalui kendaraan.

“Jika saat musim penghujan, ada warga yang sakit dan harus segera dibawa ke RSUD Kebumen, tetapi terkendala jalan becek dan rusak parah sehingga mobil tidak ada yang berani melewati jalan itu. Kami terpaksa membawa orang yang sakit ke RSUD Banjarnegara sebab akses jalan yang lebih mudah dilalui mobil,” jelasnya.

“Sebab sangat tidak mungkin sekali untuk dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Gombong, RS Karanganyar, apalagi ke RSUD Kebumen, karena jalan itu tidak dapat dilewati kendaraan pada saat musim penghujan seperti ini. Menurut saya pribadi sungguh sangat ironislah, sebab pemerintah sekarang seolah-olah tutup mata untuk masyarakat di perbatasan dan lebih mementingkan pembangunan kota.” kata KD dengan menunjukkan kekesalannya.

“Lebih kasihan lagi, sudah warga tidak mampu dan memiliki kartu KIS untuk berobat gratis di Kabupaten Kebumen namun tidak dapat digunakan di RSUD Kabupaten Banjarnegara. Terpaksa mereka harus menggunakan kesehatan mandiri alias bayar sendiri,” ucapnya.

Kemudian dirinya meluapkan emosinya dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait keluh kesah masyarakat pelosok atau perbatasan kepada pemerintah daerah Kabupaten Kebumen.

“Kapan, kami masyarakat pelosok dipikirkan?
Kapan pembangunan di pedesaan kami terealisasikan?
Apakah kami di perbatasan sudah tidak dianggap, namun dicari pada saat dibutuhkan suaranya terkait pemilihan saja?
Apakah ini yang namanya Korban politik?,” pungkasnya.

Kaswi // Red

(Sunardi) Kepala Koordinator Investigasi Media

Komentar